Pahami Cara Berpikir Sejarah Diakronik & Sinkronik

Dalam mengkaji suatu peristiwa masa lalu, ilmu sejarah menyediakan dua pendekatan utama yang menjadi landasan analisis, yaitu cara berpikir diakronik dan sinkronik. Kedua konsep ini berfungsi sebagai pisau bedah metodologis untuk melihat bagaimana sebuah fenomena sejarah terbentuk, berkembang, hingga memberikan dampak. Secara garis besar, diakronik berfokus pada dimensi waktu yang bergerak secara kronologis, sementara sinkronik lebih menekankan pada dimensi ruang untuk membedah situasi secara mendalam.

Cara berpikir diakronik mengajak kita melihat sejarah sebagai sebuah proses yang berkesinambungan, di mana satu peristiwa melintasi waktu dan memicu rentetan peristiwa berikutnya berdasarkan hubungan sebab-akibat. Sebaliknya, cara berpikir sinkronik memilih untuk membatasi waktu penafsiran guna mengupas tuntas struktur sosial, ekonomi, maupun politik yang terjadi pada satu momen tertentu. Dengan memahami garis besar dari kedua cara berpikir ini, kita akan memiliki pondasi yang kuat sebelum menganalisis berbagai peristiwa sejarah secara lebih komprehensif.

​Apa Itu Cara Berpikir Diakronik

gambar pengertian tentang diakronik gambar perubahan massa cara berpikir

 

​Secara etimologi, kata diakronik berasal dari bahasa Yunani, yaitu dia yang berarti melampaui atau melalui, dan chronos yang berarti waktu. Dalam ilmu sejarah, cara berpikir diakronik dapat diartikan sebagai metode untuk memahami sebuah peristiwa dengan cara melihat alur perkembangannya sepanjang masa. Pendekatan ini memandang bahwa setiap fenomena yang terjadi di masa lalu tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari rantai proses yang saling terhubung antara masa sebelum dan sesudahnya melalui hubungan sebab-akibat yang kuat.

​Melalui pendekatan ini, sejarawan diajak untuk meneliti sebuah peristiwa sejarah secara vertikal, yaitu melacak pergerakan waktu dari satu titik ke titik berikutnya. Fokus utamanya bukan pada gambaran situasi di satu saat saja, melainkan pada bagaimana situasi tersebut berubah, berkembang, atau bertahan seiring berjalannya waktu. Dengan demikian, cara berpikir diakronik membantu kita melihat benang merah dari sebuah rangkaian peristiwa besar sehingga kita bisa memahami latar belakang sejarah secara utuh dan logis.

Apa Itu Cara Berpikir Sinkronik

gambar pengertian tentang sinkronik gambar perubahan massa cara berpikir

​Istilah sinkronik berasal dari bahasa Yunani, yaitu syn yang berarti dengan, dan chronos yang berarti waktu. Di dalam studi sejarah, pendekatan sinkronik digunakan untuk mempelajari peristiwa pada satu masa tertentu secara menyeluruh dan mendalam. Metode ini mengabaikan proses perkembangan waktu dan lebih memilih untuk memusatkan perhatian pada ruang lingkup terjadinya peristiwa tersebut.

Saat menerapkan cara berpikir ini, fokus utama beralih pada hubungan antarunsur yang ada di dalam suatu kejadian, seperti keterkaitan antara kondisi ekonomi, kebijakan politik, dan tatanan sosial masyarakat. Pendekatan horizontal ini tidak melihat apa yang terjadi sebelum atau sesudah peristiwa, melainkan membedah secara detail situasi internal yang sedang berlangsung. Karena berfokus pada struktur, analisis sinkronik sering kali menggunakan teori dan konsep dari rumpun ilmu sosial lainnya. 

Ciri-Ciri Cara Berpikir Diakronik dan Sinkronik

​Meskipun sama-sama digunakan untuk mengkaji peristiwa sejarah, cara berpikir diakronik dan sinkronik memiliki karakteristik yang bertolak belakang. Kedua pendekatan ini landasan metodenya berbeda, sehingga ciri-ciri yang dihasilkan pun sangat kontras dalam melihat sebuah fenomena masa lalu. Memahami karakteristik dari masing-masing konsep ini sangat penting agar kita dapat menempatkan sudut pandang yang tepat saat merekonstruksi atau menganalisis suatu peristiwa sejarah.

​A. Ciri-Ciri Cara Berpikir Diakronik

​Pendekatan diakronik digunakan untuk melihat perubahan sejarah dari waktu ke waktu secara runtut. Karakteristik utama dari metode berpikir ini meliputi beberapa poin berikut:

  • Memanjang dalam waktu, menyempit dalam ruang: Berfokus pada alur waktu yang panjang namun membatasi tempat terjadinya peristiwa.
  • ​Bersifat dinamis dan kronologis: Menekankan pada proses perkembangan sejarah yang bergerak maju sesuai urutan kalender.
  • Adanya hubungan sebab-akibat: Meneliti keterkaitan antara peristiwa masa lalu sebagai pemicu lahirnya peristiwa baru di masa berikutnya.

B. Ciri-Ciri Cara Berpikir Sinkronik

​Berbanding terbalik dengan konsep sebelumnya, pendekatan sinkronik lebih memilih untuk membedah situasi sebuah zaman secara meluas. Ciri khas dari cara berpikir ini antara lain:

  • ​Meluas dalam ruang, terbatas dalam waktu: Membahas satu momen secara mendalam namun membatasi rentang waktunya.  
  • ​Bersifat deskriptif dan statis: Berfokus memotret kondisi internal suatu peristiwa tanpa melihat perkembangan sebelum atau sesudahnya.
  • ​Pendekatan multidimensional: Membedah peristiwa dari berbagai sudut pandang (ekonomi, sosial, politik) dengan bantuan teori ilmu sosial lain.

Perbedaan Utama Diakronik dan Sinkronik

gambar tentang perubahan cara berpikir yang membedakan cara berpikir diakronik dan sinkronik

​Perbedaan paling mendasar antara kedua cara berpikir ini terletak pada fokus dimensi ruang dan waktu yang digunakan dalam membedah sebuah peristiwa. Pendekatan diakronik menempatkan waktu sebagai unsur utama yang bergerak secara dinamis, sehingga penulisan sejarahnya cenderung memanjang untuk memperlihatkan proses perkembangan dari satu tahun ke tahun berikutnya. Sebaliknya, pendekatan sinkronik justru membatasi variabel waktu tersebut dan memilih untuk memperluas ruang lingkup kajian secara horizontal, sehingga analisis yang dihasilkan menjadi sangat melebar pada satu momen spesifik.

​Perbedaan lainnya dapat dilihat dari sifat hasil analisis serta metode pendekatan yang digunakan oleh sejarawan. Cara berpikir diakronik menghasilkan penulisan sejarah yang bersifat naratif dan kronologis, yang menceritakan urutan kejadian secara runtut seperti sebuah aliran cerita. Di sisi lain, cara berpikir sinkronik menghasilkan ulasan yang bersifat deskriptif, tajam, dan mendalam karena melibatkan analisis struktural terhadap berbagai sendi kehidupan masyarakat pada masa itu dengan mengadopsi teori-teori dari rumpun ilmu sosial.

Cara berpikir diakronik dan sinkronik merupakan dua pendekatan yang saling melengkapi di dalam metodologi ilmu sejarah. Pendekatan diakronik memberikan pemahaman mengenai dimensi waktu, proses perkembangan, serta keterkaitan kronologis antarperistiwa secara runtut dari masa ke masa. Sementara itu, pendekatan sinkronik memberikan kedalaman analisis mengenai struktur, kondisi, dan tatanan berbagai aspek kehidupan masyarakat pada satu momentum spesifik.

​Penerapan kedua metode ini secara tepat akan menghasilkan rekonstruksi sejarah yang utuh dan berbobot. Sejarawan tidak hanya dapat menyajikan urutan kejadian masa lalu secara logis berdasarkan garis waktu, tetapi juga mampu mengupas latar belakang situasi zaman tersebut secara mendalam. Kombinasi antara unsur kronologis dan analisis struktural ini membuat penulisan sejarah menjadi lebih informatif serta mudah dipahami dari berbagai sudut pandang ilmu sosial.